KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan data Refinitiv, depresiasi tipis tersebut memangkas penguatan rupiah yang sempat tercatat 0,22% ke posisi Rp17.820/US$ pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026). Pasar keuangan domestik memang baru kembali beroperasi setelah libur panjang perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin kemarin.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS (DXY) justru terpantau melemah 0,11% ke posisi 99,528 pada pukul 09.00 WIB. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor domestik, khususnya sikap wait and see pelaku pasar menjelang pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.
Dolar AS Tertekan Data Ekonomi yang Lesu
Di pasar global, greenback sedang berada dalam posisi tertekan. Serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS) terbaru menunjukkan tanda-tanda perlambatan, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Data penjualan ritel AS pada Juli 2026 tercatat turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah hilangnya lapangan kerja dan inflasi yang relatif terkendali. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang menyusut drastis.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini hanya diperhitungkan sebesar 30,6% oleh pelaku pasar, turun tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 52,2%. Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga ini seharusnya menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Fokus Pasar: Hasil RDG BI dan Sinyal The Fed
Pasar kini mengalihkan pandangan ke dua agenda penting. Dari dalam negeri, BI mulai menggelar RDG selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan suku bunga akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026).
Konsensus pasar memperkirakan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Sebelumnya, bank sentral telah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang periode April-Juni 2026 untuk menstabilkan rupiah.
"Yang lebih penting dari angka suku bunga adalah pernyataan sikap (forward guidance) BI terkait stabilitas nilai tukar dan likuiditas perbankan," ujar analis pasar uang saat dihubungi, Selasa (18/8/2026). Pandangan BI terhadap inflasi domestik dan prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun juga akan menjadi sinyal utama arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Dari eksternal, pasar akan menantikan simposium tahunan The Fed di Jackson Hole pada pekan depan. Acara tersebut akan menjadi panggung bagi para pejabat bank sentral AS untuk memberikan petunjuk mengenai pandangan mereka terhadap kondisi ekonomi terkini dan arah kebijakan suku bunga ke depan, yang akan menentukan pergerakan dolar AS secara global.